Beberapa pekan terakhir sedang ramai nih sebuah kampanye dari sebuah brand kerudung. Niat iklannya sih ingin mengajak menutup aurat, namun sayangnya perspektif penyampaian yang digunakan justru malah menyakiti kaum perempuan, terutama mereka para penyintas kekerasan seksual. Demi memantik engagement kok mesti pakai gimmick yang problematik? Setelah ramai diberitakan dan menjadi viral, iklan tersebut bahkan masih bertengger di akun media sosialnya. Bahkan protes warganet di kolom komentarnya pun malah mendapatkan respon denial dari sang admin. Lantas harus seperti apa sih etika pariwara yang empatik dan beradab itu? Brand dengan spirit tauhid kok menjelma jadi budak algoritma? Harus banget ya pakai perspektif yang mengusik kemanusiaan perempuan?